Sunnah Umroh yang Sering Dilupakan Jamaah

Aug 11, 2026 82 mins read

Sunnah Umroh yang Sering Dilupakan Jamaah adalah hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan selama menjalankan ibadah umroh, tetapi sering terlewat karena kurangnya persiapan atau pengetahuan. Mulai dari memperbanyak doa, berdzikir, menjaga adab, hingga memperhatikan sunnah sebelum dan selama pelaksanaan umroh.

sunnah-umroh-yang-sering-dilupakan-jamaah.png

Sunnah Umroh yang Sering Dilupakan Jamaah: Panduan Lengkap agar Ibadah Lebih Sempurna

Umroh bukan hanya tentang sampai di Tanah Suci, mengenakan pakaian ihram, melakukan tawaf, sa’i, kemudian tahallul. Di balik setiap rangkaian ibadah tersebut terdapat banyak amalan sunnah yang dapat memperindah perjalanan seorang jamaah menuju Baitullah.

Sayangnya, beberapa sunnah umroh justru sering terlupakan. Sebagian jamaah terlalu fokus mengejar banyak aktivitas, mengambil foto, berbelanja oleh-oleh, atau sekadar mengikuti rombongan, sehingga kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW menjadi terlewat.

Padahal, perjalanan umroh adalah kesempatan yang sangat berharga. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk berdiri di depan Ka’bah, memandang Baitullah, melakukan tawaf, berdoa di tempat-tempat mulia, dan merasakan suasana ibadah di Masjidil Haram.

Karena itu, selain memahami rukun dan wajib umroh, jamaah juga sebaiknya mengetahui sunnah umroh yang sering dilupakan agar setiap kesempatan di Tanah Suci dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.

Artikel ini akan membahas berbagai sunnah sebelum berangkat, saat ihram, ketika memasuki Masjidil Haram, saat tawaf, sa’i, hingga setelah menyelesaikan umroh.

Apa yang Dimaksud dengan Sunnah dalam Ibadah Umroh?

Sunnah adalah amalan yang dianjurkan dalam agama. Melaksanakannya mendapatkan keutamaan dan pahala, sedangkan meninggalkannya tidak menyebabkan ibadah umroh menjadi batal.
Hal ini penting dipahami oleh jamaah pemula. Jangan sampai seseorang terlalu khawatir karena meninggalkan amalan sunnah, tetapi justru kurang memperhatikan rukun atau kewajiban umroh. Dalam salah satu rujukan fikih yang banyak digunakan dalam pembelajaran manasik di Indonesia, rukun umroh terdiri dari ihram, tawaf, sa’i, cukur atau tahallul, dan tertib. Sementara itu, ihram dari miqat dan menjauhi larangan ihram termasuk kewajiban yang harus diperhatikan jamaah. Dengan kata lain, sunnah bukan pengganti rukun dan wajib umroh. Namun, sunnah tetap memiliki nilai penting karena membantu jamaah menjalankan ibadah dengan lebih sempurna, tertib, dan sesuai tuntunan.


1. Mandi Sebelum Ihram

Salah satu sunnah yang sering terlupakan adalah mandi sebelum melakukan ihram.
Sebelum memasuki rangkaian ihram, jamaah dianjurkan membersihkan diri terlebih dahulu. Mandi ihram dapat dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.
Jamaah sebaiknya tidak hanya memikirkan pakaian ihram. Kebersihan tubuh juga merupakan bagian dari persiapan menuju ibadah. Mandi sebelum ihram dapat menjadi momen untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental.
Sebelum berangkat menuju miqat, jamaah dapat memastikan tubuh sudah bersih, pakaian sudah siap, serta perlengkapan penting sudah tersimpan dengan baik. Bagi jamaah perempuan, mandi ihram juga tetap dianjurkan meskipun sedang mengalami haid atau nifas. Kondisi tersebut tidak menghalangi seseorang untuk berihram, meskipun terdapat ketentuan berbeda mengenai ibadah lain seperti tawaf.


2. Membersihkan Diri Sebelum Memakai Ihram

Selain mandi, jamaah dianjurkan memperhatikan kebersihan tubuh sebelum masuk ihram. Bagi laki-laki, mencukur atau merapikan rambut tertentu, memotong kuku, serta membersihkan tubuh dapat dilakukan sebelum niat ihram. Hal ini menjadi lebih penting karena setelah seseorang memasuki keadaan ihram terdapat larangan tertentu yang harus diperhatikan. Jangan menunggu sampai sudah berniat ihram untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan sebelumnya. Karena itu, persiapan terbaik adalah menyelesaikan kebutuhan kebersihan dan perawatan diri sebelum memasuki miqat.


3. Memakai Pakaian Ihram dengan Persiapan yang Baik

Pakaian ihram memang bukan sekadar pakaian biasa. Untuk laki-laki, ihram menggunakan dua lembar kain tanpa jahitan yang menutupi bagian tubuh sesuai ketentuan. Sementara perempuan menggunakan pakaian yang menutup aurat sesuai ketentuan syariat. Salah satu kesalahan jamaah pemula adalah terlalu fokus pada bagaimana pakaian ihram terlihat, tetapi kurang memahami bahwa yang terpenting adalah memasuki keadaan ihram dengan niat yang benar dan memahami larangannya. Sebelum berangkat menuju miqat, pastikan pakaian ihram sudah terpasang dengan nyaman. Jangan sampai jamaah baru sibuk memperbaiki pakaian ketika sudah berada di tengah perjalanan.


4. Menggunakan Wewangian Sebelum Ihram

Penggunaan wewangian sebelum masuk keadaan ihram termasuk perkara yang dianjurkan dalam persiapan ihram menurut pembahasan fikih yang umum diajarkan.
Namun, jamaah perlu berhati-hati membedakan antara menggunakan wewangian sebelum ihram dan menggunakan wewangian setelah seseorang sudah berada dalam keadaan ihram. Setelah niat ihram, terdapat larangan menggunakan wewangian pada tubuh maupun pakaian dalam kondisi tertentu.
Karena itu, jika ingin menggunakan parfum atau wewangian, lakukan sebelum berniat ihram dan pastikan memahami ketentuan manasik yang diikuti. Ini merupakan salah satu hal kecil yang sering dianggap sepele, padahal sangat penting bagi jamaah.


5. Salat Sunnah Sebelum Ihram

Dalam sebagian panduan manasik, jamaah dianjurkan melaksanakan salat sunnah sebelum ihram. Namun perlu dipahami bahwa jangan sampai jamaah menganggap terdapat salat khusus ihram yang harus dilakukan dengan tata cara tertentu dan apabila tidak dikerjakan maka umrohnya tidak sah. Yang terpenting adalah memahami bahwa niat ihram merupakan bagian dari rukun umroh, sedangkan salat sunnah berkaitan dengan persiapan ibadah dan memiliki rincian fikih yang perlu mengikuti tuntunan pembimbing atau mazhab yang digunakan. Kemenag juga menjelaskan rangkaian persiapan di miqat, termasuk mengenakan pakaian ihram, melakukan niat, dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Makkah.


6. Membaca Talbiyah Setelah Ihram

Ini adalah salah satu sunnah yang paling sering terlupakan oleh jamaah. Setelah berniat ihram, jamaah dianjurkan memperbanyak bacaan talbiyah.
Bacaan yang sangat dikenal adalah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak.

Artinya:

"Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu."

Talbiyah merupakan salah satu amalan khas dalam perjalanan menuju Baitullah. Jamaah dianjurkan membacanya setelah ihram dan memperbanyaknya selama berada dalam keadaan ihram sesuai ketentuan manasik.
Bagi laki-laki, talbiyah dianjurkan dibaca dengan suara yang terdengar. Sementara perempuan membacanya dengan suara yang lebih pelan. Jangan hanya mengandalkan suara pembimbing.
Cobalah menghafalkan talbiyah sebelum berangkat sehingga selama perjalanan jamaah dapat membacanya dengan tenang.


7. Memperbanyak Doa dan Zikir Selama Perjalanan

Perjalanan menuju Makkah bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain.
Ketika sudah memasuki keadaan ihram, waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak zikir, istighfar, membaca Al-Qur'an, salawat, dan doa. 
Tidak harus selalu menggunakan doa panjang.
Doa sederhana seperti:

"Ya Allah, mudahkan perjalanan umroh kami."

"Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami."

"Ya Allah, terima ibadah kami."

atau doa untuk orang tua, keluarga, dan orang-orang yang kita cintai juga sangat berarti.
Dalam panduan doa ihram, jamaah juga dianjurkan memohon surga, berlindung dari neraka, memperbanyak istighfar, serta memanjatkan doa kebaikan dunia dan akhirat.


8. Memasuki Masjidil Haram dengan Adab

Ketika akhirnya tiba di Masjidil Haram, jangan biarkan rasa kagum membuat kita lupa adab.
Banyak jamaah begitu bersemangat melihat Ka'bah sampai langsung mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto atau video.
Padahal, momen pertama bertemu Baitullah bisa dimanfaatkan untuk berdoa dan mengingat kebesaran Allah.
Masuklah dengan tenang.
Perbanyak doa.
Jaga pandangan.
Jangan mendorong jamaah lain.
Dan jangan membuat keributan hanya karena ingin mendapatkan posisi tertentu.
Tanah Suci adalah tempat berkumpulnya jutaan umat Islam dari berbagai negara. Kesabaran dan kemampuan menjaga adab merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual tersebut.


9. Tidak Memaksakan Diri Menyentuh Hajar Aswad

Menyentuh atau mencium Hajar Aswad merupakan amalan yang sangat dikenal dalam ibadah tawaf.
Namun, jamaah sering lupa bahwa mencium Hajar Aswad bukan alasan untuk menyakiti orang lain.
Jangan mendorong.
Jangan berdesakan secara berlebihan.
Jangan menarik orang lain.
Jangan membuat jamaah lansia atau jamaah yang lemah terjatuh hanya demi menyentuh Hajar Aswad.
Jika kondisi sangat padat dan sulit mendekat, jamaah dapat mengikuti tuntunan pembimbing mengenai cara mengisyaratkan ke arah Hajar Aswad. Dalam ibadah, menjaga keselamatan dan tidak menyakiti sesama jamaah harus menjadi perhatian.


10. Membaca Doa Ketika Tawaf Tanpa Terlalu Terpaku pada Buku

Salah satu kebiasaan yang sering terlihat adalah jamaah membawa buku doa besar lalu membaca setiap kalimat secara tergesa-gesa.
Padahal, inti tawaf bukan sekadar menyelesaikan bacaan.
Jamaah dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami.
Doakan orang tua.
Doakan keluarga.
Doakan kesehatan.
Doakan rezeki yang halal.
Doakan agar dosa diampuni.
Doakan agar umroh diterima.
Doakan masa depan anak-anak.
Dan jangan lupa mendoakan diri sendiri agar menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke Indonesia.
Jika jamaah tidak hafal doa tertentu, jangan panik.
Perbanyak zikir, salawat, istighfar, dan doa yang diketahui.


11. Memperbanyak Istighfar Saat Tawaf

Tawaf adalah salah satu momen yang sangat baik untuk melakukan introspeksi diri.
Bayangkan berapa banyak dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan berada di depan Ka'bah.
Karena itu, jangan habiskan seluruh putaran tawaf hanya dengan memikirkan urusan dunia.

Perbanyak istighfar.

"Astaghfirullahal 'azhim."

Mintalah ampun kepada Allah dengan penuh kesadaran.
Bukan sekadar mengucapkan kata-kata, tetapi benar-benar menghadirkan rasa membutuhkan ampunan Allah.


12. Melaksanakan Salat Dua Rakaat Setelah Tawaf

Setelah menyelesaikan tawaf, jamaah dianjurkan melaksanakan salat sunnah dua rakaat.
Salat dua rakaat setelah tawaf dikenal sebagai salat sunnah tawaf. Para ulama membahas keutamaannya sebagai salah satu salat sunnah dalam rangkaian manasik.
Jamaah tidak perlu memaksakan diri mendapatkan tempat tertentu jika kondisi sangat padat.
Yang terpenting adalah melaksanakannya dengan tenang dan tidak mengganggu arus jamaah lain.
Jika tempat di sekitar Maqam Ibrahim sangat penuh, ikuti arahan petugas dan pembimbing agar ibadah tetap aman dan tertib.


13. Memahami Makna Tawaf, Bukan Sekadar Menghitung Putaran

Tawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran.
Namun, jangan sampai jamaah hanya fokus menghitung:

"Ini putaran ketiga."

"Ini putaran kelima."

"Sebentar lagi selesai."

Lebih dari sekadar angka, tawaf adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Setiap putaran dapat dijadikan kesempatan untuk memperbanyak doa.
Jadikan tawaf sebagai waktu untuk meninggalkan sejenak urusan dunia.
Tidak perlu sibuk membuka media sosial.
Tidak perlu terus-menerus mengambil video.
Nikmati ibadah tersebut dengan hati yang tenang.


14. Berdoa di Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Salah satu doa yang sangat dikenal dalam rangkaian tawaf dibaca ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar.

Artinya:

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka."

Doa ini singkat dan mudah dihafalkan.
Jamaah pemula sebaiknya menghafalkannya sebelum berangkat agar tidak terlalu bergantung pada buku doa selama tawaf.


15. Memulai Sa'i dengan Tenang dari Shafa

Setelah tawaf dan rangkaian yang berkaitan dengannya selesai, jamaah melanjutkan sa'i antara Shafa dan Marwah.
Sa'i merupakan rukun umroh, bukan sekadar sunnah. Karena itu, jangan sampai pembahasan tentang sunnah membuat jamaah lupa bahwa sa'i wajib dilakukan sebagai bagian dari rukun umroh.
Sa'i dilakukan sebanyak tujuh perjalanan, dimulai dari Shafa menuju Marwah.
Shafa ke Marwah dihitung satu kali.
Marwah kembali ke Shafa dihitung dua kali.
Demikian seterusnya hingga perjalanan ketujuh berakhir di Marwah.


16. Memperbanyak Doa Saat Berada di Shafa dan Marwah

Ketika berada di Shafa dan Marwah, jangan hanya berhenti sebentar kemudian langsung berjalan.
Manfaatkan kesempatan tersebut untuk berdoa dan berzikir.
Ingatlah perjuangan Siti Hajar ketika mencari air untuk Nabi Ismail AS.
Sa'i bukan sekadar aktivitas berjalan kaki.
Ada kisah tentang keyakinan, perjuangan, usaha, dan tawakal yang sangat dalam di baliknya.
Dengan memahami sejarah sa'i, jamaah dapat merasakan bahwa setiap langkah memiliki makna.


17. Menghayati Kisah Siti Hajar Saat Sa'i

Banyak jamaah melakukan sa'i dengan cepat tetapi tidak memahami apa yang sedang mereka lakukan.
Padahal, sa'i mengingatkan kita pada perjuangan seorang ibu.
Siti Hajar berusaha mencari air untuk anaknya. Ia tidak hanya duduk menunggu pertolongan.
Ia berusaha.
Ia bergerak.
Ia mencari.
Ia berharap kepada Allah.
Inilah salah satu pelajaran penting dari sa'i.
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha.
Kita berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.


18. Tidak Berlebihan Saat Berjalan di Area Lampu Hijau

Dalam perjalanan sa'i, terdapat area yang dikenal jamaah sebagai bagian tempat laki-laki disunnahkan mempercepat langkah atau melakukan ramal sesuai ketentuan manasik.
Namun, jangan menjadikan hal tersebut sebagai perlombaan.
Jamaah lansia, orang sakit, atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik tidak perlu memaksakan diri.
Tujuan utama adalah menjalankan ibadah dengan benar, bukan menunjukkan kemampuan fisik.
Bila kondisi tubuh tidak memungkinkan, utamakan keselamatan.


19. Memperbanyak Zikir Saat Sa'i

Sama seperti tawaf, sa'i juga dapat diisi dengan zikir dan doa.
Tidak harus membaca doa yang panjang.
Anda dapat membaca:

"Subhanallah."

"Alhamdulillah."

"Allahu Akbar."

"La ilaha illallah."

atau memperbanyak istighfar dan salawat.
Anda juga dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami.
Justru doa yang keluar dari hati sering kali terasa lebih bermakna daripada sekadar membaca teks tanpa memahami artinya.


20. Tidak Mengobrol Berlebihan Saat Sa'i

Tidak ada larangan bagi jamaah untuk berbicara ketika sa'i dalam konteks yang dibolehkan.
Namun, perjalanan sa'i adalah bagian dari ibadah.
Karena itu, sebaiknya jangan menghabiskan seluruh perjalanan dengan membicarakan belanja, hotel, makanan, atau urusan dunia lainnya.
Gunakan sebagian besar waktu untuk mengingat Allah.
Jika perlu berbicara dengan anggota rombongan, lakukan seperlunya.


21. Melakukan Tahallul dengan Tertib

Tahallul merupakan bagian dari rukun umroh.
Setelah menyelesaikan sa'i, jamaah melanjutkan dengan mencukur atau memotong rambut sesuai ketentuan.
Untuk laki-laki, mencukur rambut sampai habis atau memendekkannya memiliki pembahasan fikih tersendiri mengenai keutamaannya.
Sedangkan perempuan memotong sebagian rambut sesuai ketentuan.
Jangan terburu-buru melakukan tahallul sebelum memastikan sa'i telah selesai dengan benar.
Karena tahallul merupakan bagian dari rangkaian rukun, urutannya harus diperhatikan.


22. Tidak Menganggap Umroh Selesai Hanya Karena Sudah Tahallul

Secara rangkaian manasik, tahallul menandai berakhirnya keadaan ihram untuk umroh.
Namun, jangan menganggap bahwa perjalanan spiritual selesai ketika rambut sudah dipotong.
Justru di sinilah ujian sebenarnya dimulai.
Apakah setelah pulang dari Tanah Suci kita menjadi lebih sabar?
Apakah kita lebih rajin salat?
Apakah kita lebih menjaga lisan?
Apakah kita lebih menghormati orang tua?
Apakah kita lebih peduli kepada sesama?
Umroh seharusnya meninggalkan perubahan dalam kehidupan, bukan hanya foto dan kenangan.


23. Memperbanyak Ibadah Setelah Umroh

Jika masih memiliki waktu di Makkah, manfaatkan kesempatan tersebut untuk beribadah.
Salat berjamaah.
Membaca Al-Qur'an.
Berzikir.
Berdoa.
Bersedekah.
Mengikuti kajian.
Dan memperbanyak amal baik lainnya.
Tidak semua kesempatan harus diisi dengan aktivitas wisata atau belanja.
Tanah Suci adalah kesempatan yang mungkin tidak datang berkali-kali.


24. Menjaga Lisan Selama Berada di Tanah Suci

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sering dilupakan.
Jamaah dapat melakukan banyak ibadah fisik, tetapi pahala tersebut jangan sampai dirusak oleh perkataan yang tidak baik.
Hindari mengeluh berlebihan.
Jangan mencela jamaah lain.
Jangan mudah marah.
Jangan menghina pelayanan hotel.
Jangan memaki pengemudi.
Jangan bertengkar karena antrean.
Ingat bahwa setiap orang datang ke Tanah Suci dengan latar belakang yang berbeda.
Ada yang masih muda.
Ada yang sudah lanjut usia.
Ada yang sehat.
Ada yang sakit.
Ada yang baru pertama kali umroh.
Ada pula yang sudah berkali-kali.
Kesabaran menjadi bagian penting dari perjalanan ibadah.


25. Menghindari Riya dan Berlebihan Mengunggah Aktivitas Ibadah

Media sosial membuat jamaah dapat membagikan hampir semua aktivitas dengan mudah.
Mengunggah foto di depan Ka'bah tentu tidak otomatis salah. Namun, jamaah perlu berhati-hati terhadap niat.
Apakah kita mengunggah karena ingin mengabadikan kenangan?
Atau karena ingin mendapatkan pujian?
Periksa kembali niat.
Ibadah adalah hubungan seorang hamba dengan Allah.
Jangan sampai perhatian kepada kamera lebih besar daripada perhatian kepada ibadah.


26. Memperbanyak Sedekah

Sedekah merupakan salah satu amalan yang dapat diperbanyak selama perjalanan umroh.
Tidak harus dalam jumlah besar.
Yang terpenting adalah keikhlasan.
Jamaah dapat bersedekah sesuai kemampuan dan melalui cara yang aman serta sesuai aturan setempat.
Jangan merasa bahwa hanya orang kaya yang dapat bersedekah.
Bahkan kebaikan sederhana kepada jamaah lain pun dapat menjadi bentuk kepedulian.
Memberikan tempat duduk.
Membantu membawa barang.
Mengarahkan jamaah yang tersesat.
Membantu orang tua.
Semua itu merupakan bentuk akhlak mulia.


27. Menghormati Jamaah dari Negara Lain

Salah satu keunikan umroh adalah bertemu dengan umat Islam dari berbagai penjuru dunia.
Ada jamaah dari Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan, India, Afrika, Eropa, dan berbagai negara lainnya.
Perbedaan bahasa, budaya, kebiasaan, dan karakter tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Justru dari sini kita dapat belajar bahwa Islam menyatukan manusia dalam ibadah kepada Allah.
Berikan ruang.
Jangan menyerobot antrean.
Jangan mendorong.
Dan jangan menganggap diri sendiri paling berhak mendapatkan tempat tertentu.


28. Memperbanyak Doa untuk Orang Lain

Salah satu kebiasaan baik yang dapat dilakukan selama umroh adalah mendoakan orang lain.
Doakan orang tua.
Doakan pasangan.
Doakan anak.
Doakan saudara.
Doakan sahabat.
Doakan orang yang sedang sakit.
Doakan orang yang belum mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci.
Bahkan, buat daftar doa sebelum berangkat.
Tuliskan nama dan kebutuhan orang-orang yang ingin didoakan.
Dengan demikian, ketika berada di depan Ka'bah, kita tidak kebingungan memikirkan apa yang ingin disampaikan kepada Allah.


29. Menyiapkan Daftar Doa Sebelum Berangkat

Ini adalah tips sederhana yang sangat berguna bagi jamaah pemula.
Sebelum berangkat, buat daftar doa.
Misalnya:

  1. Ampunan dosa.
  2. Kesehatan.
  3. Keberkahan rezeki.
  4. Kebaikan untuk orang tua.
  5. Kebaikan untuk pasangan dan anak.
  6. Keselamatan keluarga.
  7. Kemudahan pekerjaan.
  8. Ketenangan hati.
  9. Kemudahan melunasi kewajiban.
  10. Agar umroh diterima Allah.

Daftar tersebut bukan berarti doa harus dibaca persis seperti tulisan.
Gunakan sebagai pengingat agar tidak ada hal penting yang terlupakan.


30. Menjaga Niat Setelah Pulang dari Tanah Suci

Inilah sunnah dan nilai terbesar yang sering terlupakan dalam arti yang lebih luas: membawa semangat ibadah pulang ke rumah.
Jangan sampai sebelum berangkat kita rajin membaca Al-Qur'an, tetapi setelah pulang kembali seperti sebelumnya.
Jangan sampai di Tanah Suci kita menjaga lisan, tetapi setelah pulang kembali gemar membicarakan keburukan orang lain.
Jangan sampai di depan Ka'bah kita menangis meminta ampunan, tetapi setelah pulang kembali mengulangi kesalahan yang sama.
Umroh seharusnya menjadi titik perubahan.


Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menjalankan Sunnah Umroh

Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari jamaah.

1. Menganggap semua sunnah sebagai kewajiban

Tidak semua amalan sunnah apabila ditinggalkan membuat umroh tidak sah.
Pahami perbedaan antara rukun, wajib, dan sunnah.

2. Terlalu fokus pada hafalan doa

Jangan sampai jamaah panik karena tidak hafal semua doa.
Berdoalah dengan bahasa yang dipahami dan ikhlas.

3. Memaksakan diri mencium Hajar Aswad

Jangan menyakiti orang lain hanya demi mendapatkan kesempatan mencium Hajar Aswad.

4. Sibuk mengambil foto

Dokumentasi boleh dilakukan secara wajar, tetapi jangan sampai menghilangkan kekhusyukan.

5. Mengabaikan kondisi tubuh

Umroh membutuhkan tenaga.
Istirahat ketika diperlukan dan jangan memaksakan diri.

6. Tidak memperhatikan arahan pembimbing

Jamaah sebaiknya mengikuti arahan pembimbing yang memahami kondisi rombongan dan ketentuan manasik.


Checklist Sunnah Umroh yang Sebaiknya Dipersiapkan Jamaah

Agar lebih mudah diingat, berikut checklist sederhana yang dapat disimpan sebelum berangkat:

  • Mandi sebelum ihram.
  • Membersihkan diri sebelum memasuki ihram.
  • Mempersiapkan pakaian ihram dengan baik.
  • Menggunakan wewangian sebelum ihram sesuai ketentuan.
  • Memahami tata cara niat ihram.
  • Memperbanyak talbiyah.
  • Memperbanyak istighfar.
  • Memperbanyak zikir.
  • Memperbanyak doa.
  • Menjaga adab ketika memasuki Masjidil Haram.
  • Tidak menyakiti jamaah lain demi menyentuh Hajar Aswad.
  • Memperhatikan adab ketika tawaf.
  • Melaksanakan salat sunnah tawaf.
  • Berdoa di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
  • Memahami makna sa'i.
  • Memperbanyak doa ketika berada di Shafa dan Marwah.
  • Tidak mengobrol berlebihan saat sa'i.
  • Melaksanakan tahallul dengan tertib.
  • Memperbanyak ibadah setelah menyelesaikan umroh.
  • Menjaga lisan.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Menghormati jamaah dari negara lain.
  • Menghindari riya.
  • Mendoakan keluarga dan orang lain.
  • Menjaga semangat ibadah setelah kembali ke Indonesia.

Jangan Sampai Pulang dari Umroh Hanya Membawa Oleh-Oleh

Umroh adalah perjalanan yang mungkin sudah lama dinantikan.
Ada yang menabung bertahun-tahun.
Ada yang menunggu kesempatan dari Allah.
Ada pula yang berangkat setelah melewati banyak ujian kehidupan.
Karena itu, jangan sampai seluruh perhatian selama di Tanah Suci hanya tertuju pada oleh-oleh, tempat makan, hotel, atau foto.
Oleh-oleh memang dapat menjadi bagian dari perjalanan.
Namun, oleh-oleh terbaik dari Tanah Suci bukan hanya kurma, air zamzam, sajadah, tasbih, parfum, atau makanan khas Arab.
Oleh-oleh terbaik adalah hati yang berubah menjadi lebih baik.
Pulang dengan salat yang lebih terjaga.
Pulang dengan hati yang lebih lembut.
Pulang dengan lisan yang lebih terjaga.
Pulang dengan kesabaran yang lebih besar.
Pulang dengan hubungan yang lebih baik bersama keluarga.
Dan pulang dengan keinginan untuk terus mendekat kepada Allah.


Kesimpulan

Mengetahui sunnah umroh yang sering dilupakan jamaah akan membantu kita menjalankan perjalanan ke Tanah Suci dengan lebih tenang dan bermakna.
Mulai dari mandi sebelum ihram, mempersiapkan diri, memperbanyak talbiyah, berzikir, berdoa, menjaga adab ketika tawaf, melaksanakan salat sunnah tawaf, menghayati perjalanan sa'i, hingga menjaga akhlak selama berada di Tanah Suci, semuanya dapat menjadi bagian dari usaha menyempurnakan ibadah.
Namun, jangan lupa membedakan antara sunnah, wajib, dan rukun.
Rukun umroh harus diperhatikan karena menjadi bagian yang menentukan sahnya rangkaian umroh. Sementara kewajiban seperti ihram dari miqat dan menjauhi larangan ihram juga harus dipahami dengan baik.

Kalau kamu sedang mencari perlengkapan ibadah, oleh-oleh khas Tanah Suci, sampai kebutuhan haji dan umroh yang lengkap dalam satu tempat, Alabsyar Store bisa jadi pilihan yang tepat. Mulai dari air zamzam, kurma premium, sajadah, tasbih, parfum Arab, hingga berbagai paket oleh-oleh haji dan umroh tersedia dengan kualitas yang terjamin dan harga yang bersahabat. Belanja pun jadi lebih praktis karena semuanya bisa diakses secara online tanpa perlu repot mencari ke banyak tempat. Kunjungi marketplace Alabsyar Store sekarang dan temukan berbagai produk pilihan yang siap menemani perjalanan ibadahmu maupun menjadi hadiah istimewa untuk keluarga dan kerabat.

5 Cara Mudah Mulai Jalan ke Baitullah

klik disini untuk mengobrol langsung

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie Kebijakan Cookie