perjalanan kuliner penuh makna yang telah diwariskan sejak zaman Rasulullah ﷺ hingga berkembang menjadi kekayaan cita rasa khas Timur Tengah. Dari keutamaan kurma Ajwa dan madu sebagai superfood sunnah, hingga beragam hidangan tradisional yang sarat gizi dan nilai spiritual, artikel ini menghadirkan kisah, manfaat kesehatan, serta budaya di balik setiap sajian.

Makanan bukan sekadar kebutuhan fisik bagi seorang muslim. Dalam Islam, makanan memiliki dimensi ibadah, kesehatan, sejarah, bahkan spiritualitas. Apa yang kita makan tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga hati, akhlak, dan keberkahan hidup. Karena itulah, sejak zaman Rasulullah SAW, umat Islam diajarkan untuk memilih makanan yang halal, thayyib (baik), bersih, dan menyehatkan.
Jika kita menelusuri sejarah Islam, kita akan menemukan banyak makanan yang memiliki nilai istimewa. Mulai dari kurma Ajwa, madu, susu, zaitun, hingga berbagai hidangan khas Timur Tengah yang menjadi bagian dari peradaban Islam selama berabad-abad. Semua makanan tersebut bukan hanya lezat, tetapi juga sarat makna, tradisi, dan khasiat.
Artikel ini akan mengajak Anda memahami secara lengkap sejarah makanan Islam, mulai dari masa Nabi, perkembangan di dunia Arab, hingga pengaruhnya pada budaya modern. Disusun dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, agar pembaca setia alabsyar.com dapat menikmati informasi yang bermanfaat sekaligus inspiratif.
Sebelum membahas sejarahnya, penting untuk memahami fondasi utama makanan dalam Islam, yaitu konsep halal dan thayyib.
Halal berarti diperbolehkan menurut syariat. Makanan halal berasal dari bahan yang diizinkan dan diproses dengan cara yang sesuai aturan agama.
Thayyib berarti baik, bersih, sehat, dan bermanfaat. Artinya, meskipun halal, makanan tetap harus berkualitas dan tidak membahayakan tubuh.
Dari sinilah kita belajar bahwa Islam tidak hanya mengatur hukum, tetapi juga kesehatan dan kualitas hidup umatnya.
Pada masa Rasulullah SAW, kehidupan masyarakat Arab sangat sederhana. Pola makan pun tidak berlebihan. Kesederhanaan ini justru melahirkan gaya hidup sehat dan penuh berkah.
Beberapa makanan utama yang sering dikonsumsi antara lain:
Makanan tersebut alami, minim olahan, dan kaya nutrisi.
Rasulullah SAW juga mengajarkan adab makan seperti tidak berlebihan, makan secukupnya, serta selalu bersyukur. Prinsip ini sangat relevan dengan gaya hidup sehat modern.
Kurma telah menjadi makanan pokok masyarakat Arab sejak ribuan tahun lalu. Namun di antara berbagai jenis kurma, Ajwa memiliki kedudukan paling istimewa.
Kurma Ajwa berasal dari Madinah dan dikenal sebagai kurma favorit Rasulullah SAW. Banyak riwayat menyebutkan keutamaannya.
Dalam hadis disebutkan bahwa mengonsumsi kurma Ajwa dapat menjadi perlindungan dari racun dan sihir. Selain itu, secara ilmiah kurma kaya akan:
Tak heran jika kurma menjadi makanan utama saat berbuka puasa dan juga oleh-oleh khas haji umroh.
Kurma bukan hanya makanan, tetapi simbol keberkahan, kesederhanaan, dan sunnah Nabi.
Allah SWT secara khusus menyebut madu dalam Al-Qur'an sebagai minuman yang mengandung penyembuh bagi manusia.
Ini menunjukkan bahwa madu memiliki kedudukan istimewa sejak zaman dahulu.
Sejak masa Rasulullah SAW, madu digunakan sebagai obat alami untuk berbagai keluhan kesehatan. Hingga kini, penelitian modern membuktikan bahwa madu memiliki:
Banyak ulama menganjurkan madu sebagai bagian dari gaya hidup sehat ala sunnah.
Susu termasuk minuman yang sering dikonsumsi masyarakat Arab dan juga disebut dalam Al-Qur'an.
Rasulullah SAW menyukai susu karena kandungan gizinya yang lengkap. Susu menjadi simbol kesucian dan nutrisi alami.
Hingga kini, susu tetap menjadi bagian penting dalam pola makan sehat umat Islam.
Zaitun dikenal sebagai tanaman yang diberkahi. Minyak zaitun digunakan tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga untuk kesehatan dan perawatan tubuh.
Khasiat minyak zaitun antara lain:
Budaya konsumsi zaitun telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Islam selama berabad-abad.
Seiring meluasnya wilayah Islam, makanan pun berkembang mengikuti budaya lokal.
Beberapa makanan khas yang populer antara lain:
Hidangan ini menggabungkan rempah-rempah alami, protein, dan karbohidrat seimbang.
Perdagangan antar wilayah membuat rempah dan bahan makanan saling bertukar. Inilah yang memperkaya cita rasa kuliner Islam.
Makanan dalam Islam bukan hanya soal rasa, tetapi juga nilai-nilai berikut:
Islam melarang berlebihan. Makan secukupnya lebih baik daripada berfoya-foya.
Makan bersama mempererat ukhuwah dan kasih sayang.
Memberi makanan kepada orang lain adalah bentuk sedekah terbaik.
Sejak dahulu, jamaah haji membawa makanan khas Tanah Suci sebagai tanda cinta untuk keluarga di rumah.
Beberapa oleh-oleh favorit:
Oleh-oleh ini tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan religius.
Di sinilah makanan menjadi penghubung antara pengalaman spiritual di Tanah Suci dengan keluarga di rumah.
Di zaman modern, makanan instan dan olahan berlebihan semakin mendominasi. Akibatnya, banyak masalah kesehatan muncul.
Konsep makanan sunnah justru menawarkan solusi:
Kembali pada pola makan Islami berarti kembali pada gaya hidup sehat.
Mengonsumsi kurma, madu, atau zaitun bukan hanya soal kesehatan. Ia juga menjadi cara sederhana untuk meneladani Rasulullah SAW.
Setiap suapan bisa menjadi ibadah jika diniatkan dengan benar.
Sejarah makanan Islam adalah kisah tentang keberkahan, kesehatan, dan keteladanan. Dari kurma Ajwa yang penuh manfaat, madu yang menjadi obat alami, hingga hidangan Timur Tengah yang kaya tradisi, semuanya menunjukkan bahwa Islam mengajarkan gaya hidup seimbang dan menyehatkan.