Mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali atau yang dikenal dengan istilah tawaf merupakan salah satu rukun utama dalam ibadah haji dan umrah. Bagi setiap jamaah, tawaf bukan sekadar berjalan mengitari bangunan suci, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Salah satu rangkaian ibadah yang paling ikonik adalah thawaf, yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 putaran dengan arah berlawanan jarum jam.
Bagi orang yang baru mengenal Islam atau bahkan calon jamaah yang pertama kali berangkat ke Tanah Suci, sering muncul pertanyaan:
Mengapa harus 7 kali? Mengapa bukan 5, 6, atau 10 kali? Apakah angka 7 memiliki makna khusus dalam Islam?
Pertanyaan tersebut sangat wajar. Bahkan banyak calon jamaah yang sudah berkali-kali mengikuti manasik masih penasaran mengenai hikmah di balik jumlah putaran thawaf.
Pada artikel ini, kita akan membahas secara lengkap mengenai alasan mengapa umat Islam mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali, mulai dari dasar syariat, sejarahnya sejak zaman Nabi Ibrahim, makna spiritual, hingga hikmah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Thawaf adalah ibadah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari sejajar dengan Hajar Aswad dan berakhir kembali di titik yang sama.
Thawaf menjadi bagian penting dalam:
Tanpa thawaf, ibadah haji maupun umrah tidak akan sempurna.
Allah SWT berfirman:
"...Dan hendaklah mereka melakukan thawaf mengelilingi rumah yang tua (Baitullah)."
(QS. Al-Hajj: 29)
Ayat ini menjadi dasar bahwa thawaf merupakan perintah langsung dari Allah SWT.
Jawaban paling mendasar adalah:
Karena Allah dan Rasul-Nya yang menetapkannya.
Dalam Islam terdapat dua jenis ibadah:
Thawaf termasuk ibadah yang bersifat tauqifi, yaitu tata caranya ditentukan langsung oleh syariat dan tidak boleh diubah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Ambillah dariku tata cara pelaksanaan ibadah hajimu."
(HR. Muslim)
Nabi Muhammad SAW sendiri melakukan thawaf sebanyak tujuh putaran ketika melaksanakan Haji Wada'. Seluruh sahabat mengikuti beliau, dan sejak saat itu umat Islam di seluruh dunia menjalankannya dengan jumlah yang sama.
Artinya, angka tujuh bukan hasil kesepakatan manusia, melainkan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Sejarah thawaf jauh lebih tua daripada masa Rasulullah SAW.
Ka'bah pertama kali dibangun sebagai rumah ibadah oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS.
Allah SWT berfirman:
"Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail..."
(QS. Al-Baqarah: 127)
Allah kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru seluruh manusia agar datang berhaji.
Dalam perjalanan sejarah, masyarakat Arab sempat mencampurkan ibadah tauhid dengan penyembahan berhala. Ketika Rasulullah SAW diutus, beliau mengembalikan tata cara ibadah haji sesuai ajaran Nabi Ibrahim.
Thawaf tujuh putaran tetap dipertahankan sebagaimana yang diperintahkan Allah.
Ya.
Dalam Islam, angka tujuh sering muncul pada berbagai ketentuan syariat.
Misalnya:
Hal ini menunjukkan bahwa angka tujuh memiliki kedudukan khusus dalam syariat Islam.
Namun, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam tidak diperintahkan mencari "angka keramat". Yang terpenting adalah menjalankan ibadah sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Banyak orang memperhatikan bahwa seluruh jamaah bergerak berlawanan arah jarum jam.
Menariknya, arah ini membuat posisi Ka'bah selalu berada di sisi kiri, tepat di dekat jantung manusia.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ini mengandung simbol kecintaan dan ketundukan kepada Allah.
Selain itu, beberapa ilmuwan juga mencatat bahwa:
Namun, perlu dipahami bahwa fenomena ilmiah tersebut bukan alasan utama thawaf dilakukan demikian.
Umat Islam tetap melaksanakan thawaf karena mengikuti syariat, bukan karena teori sains.
Tidak ada hadis shahih yang secara khusus menjelaskan alasan filosofis mengapa jumlah thawaf harus tujuh.
Karena itu, para ulama mengingatkan agar tidak membuat penafsiran yang berlebihan.
Yang pasti adalah:
Sikap seperti inilah yang disebut sebagai ketaatan kepada syariat.
Walaupun alasan utamanya adalah mengikuti perintah Allah, para ulama menjelaskan banyak hikmah yang dapat dipetik.
Tidak semua ibadah harus dipahami secara logika.
Seorang muslim belajar untuk berkata:
"Saya melakukannya karena Allah memerintahkannya."
Inilah bentuk penghambaan sejati.
Saat thawaf, tidak ada perbedaan antara:
Semuanya memakai pakaian ihram yang sederhana.
Semuanya berjalan mengelilingi Ka'bah.
Semuanya memohon ampun kepada Allah.
Tidak ada jabatan yang dibawa.
Saat thawaf, seluruh perhatian tertuju kepada Ka'bah sebagai kiblat umat Islam.
Hal ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, segala aktivitas seharusnya berorientasi pada mencari ridha Allah.
Ka'bah bukan untuk disembah, melainkan menjadi simbol persatuan arah ibadah umat Islam.
Thawaf sering dilakukan dalam kondisi:
Namun jamaah tetap menjaga adab, kesabaran, dan ketenangan.
Pelajaran ini sangat berguna ketika kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Di sekitar Ka'bah berkumpul umat Islam dari berbagai negara.
Mereka berbeda:
Namun seluruhnya mengucapkan kalimat yang sama:
"Labbayk Allahumma Labbayk."
Inilah gambaran indah persatuan umat Islam.
Karena ibadah memiliki aturan yang sudah ditetapkan.
Misalnya:
Demikian pula thawaf.
Jika seseorang sengaja mengurangi putaran, maka thawafnya belum sempurna.
Sebaliknya, menambah putaran dengan keyakinan bahwa itu lebih utama juga tidak sesuai tuntunan.
Islam mengajarkan keseimbangan antara semangat beribadah dan mengikuti contoh Rasulullah SAW.
Banyak orang mengira bahwa setiap putaran thawaf memiliki doa tertentu.
Padahal, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada hadis shahih yang mewajibkan doa khusus pada setiap putaran.
Jamaah boleh membaca:
Yang dianjurkan hanyalah membaca doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:
"Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar."
Selain itu, jamaah bebas berdoa sesuai kebutuhan masing-masing.
Ka'bah bukan benda yang disembah.
Ka'bah adalah rumah ibadah pertama yang dibangun untuk menyembah Allah.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang di Bakkah..."
(QS. Ali Imran: 96)
Ka'bah menjadi simbol persatuan umat Islam.
Ke mana pun seorang muslim berada:
Semuanya menghadap kiblat yang sama ketika shalat.
Begitu pula saat thawaf, seluruh jamaah bergerak mengelilingi Ka'bah sebagai bentuk ibadah kepada Allah, bukan penyembahan terhadap bangunannya.
Banyak jamaah menceritakan pengalaman yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Di tengah jutaan manusia, mereka justru merasakan:
Ada yang menangis saat pertama kali melihat Ka'bah. Ada pula yang merasakan doa-doanya mengalir begitu saja ketika setiap putaran dilalui.
Perasaan tersebut tentu berbeda pada setiap orang, namun satu hal yang hampir selalu sama adalah munculnya kesadaran bahwa seluruh manusia adalah hamba Allah yang sama-sama membutuhkan rahmat dan ampunan-Nya.
Agar ibadah lebih sempurna, berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari:
Padahal tidak ada tuntunan khusus yang mengharuskan doa berbeda di setiap putaran.
Mencium Hajar Aswad adalah sunnah, tetapi menyakiti orang lain bukanlah ajaran Islam.
Momentum thawaf adalah kesempatan beribadah dan bermunajat kepada Allah. Dokumentasi secukupnya tentu boleh, tetapi jangan sampai mengurangi kekhusyukan.
Menjaga adab, tidak mendorong, dan menghormati jamaah lain merupakan bagian dari akhlak seorang muslim.
Walaupun alasan utama thawaf tujuh putaran adalah mengikuti syariat, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting.
Di antaranya:
Pelajaran ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun hubungan dengan sesama.
Mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali bukanlah tradisi yang dibuat oleh manusia, bukan pula sekadar simbol tanpa makna. Thawaf merupakan ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah SAW. Sebagai umat Islam, kita melaksanakannya dengan penuh keyakinan karena itulah bentuk ketaatan kepada syariat.
Di balik tujuh putaran tersebut tersimpan banyak hikmah. Thawaf mengajarkan kepatuhan, kerendahan hati, kesabaran, persaudaraan, serta mengingatkan bahwa seluruh kehidupan seorang muslim seharusnya berpusat pada mencari ridha Allah.